EKOTEOLOGI: NAFAS BARU MODERASI BERAGAMA DALAM MENJAGA BUMI, Oleh: Muhammad H. Sjamsuddin
D i tengah krisis iklim global yang semakin mengkhawatirkan, agama tidak boleh hanya berdiri di menara gading. Kementerian Agama RI kini mengambil langkah progresif dengan menggagas konsep Ekoteologi. Sebuah konsep yang mempertemukan kesucian ajaran agama dengan etika pelestarian lingkungan. Langkah ini bukan sekadar tren kebijakan, melainkan panggilan teologis untuk memposisikan manusia kembali sebagai khalifah fil ardh—pengelola bumi yang bijaksana, bukan perusak. 1. Landasan Filosofis: Iman yang Membumi Secara filosofis, ekoteologi berakar pada keyakinan bahwa seluruh alam semesta adalah "ayat" atau tanda-tanda kebesaran Tuhan. Alam bukan sekadar objek eksploitasi, melainkan entitas sakral yang memiliki hak untuk lestari. Dalam perspektif Islam, konsep ini bertumpu pada pilar Tauhid (Keesaan Tuhan sebagai pemilik alam), Khalifah (Mandat manusia sebagai perawat bumi), dan Mizan (Keseimbangan alam yang harus dijaga). 2 . ...