Menertibkan Anak, Bukan Menyakiti Jiwa: Menguji Sanksi "Keras" di Madrasah NTT dalam Timbangan Kearifan Lokal
Pendidikan
di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di lingkungan Madrasah, selalu berdiri
di atas dua pilar raksasa: disiplin yang teguh dan penghormatan terhadap orang
tua/guru. Di tanah yang keras ini, ada pameo tak tertulis bahwa "rotan
guru adalah kasih sayang." Namun, ketika zaman bergeser dan perlindungan
anak menjadi harga mati, masihkah metode sanksi lama kita relevan? Atau
jangan-jangan, kita sedang mengatasnamakan "kearifan lokal" untuk
melegitimasi kekerasan yang seharusnya sudah usang?
Antara Kedisiplinan
dan Trauma
Madrasah di NTT memiliki karakteristik unik. Kita tidak
hanya mentransfer ilmu umum, tapi juga membentuk akhlakul karimah. Masalahnya,
sering kali batas antara ketegasan dan kekerasan menjadi bias. Sanksi
fisik—meski dianggap lumrah oleh sebagian orang tua di kampung-kampung—kini
menjadi bom waktu.
Apakah tepat
menghukum siswa yang terlambat dengan membersihkan halaman di bawah terik
matahari Flores atau Alor yang menyengat? Secara fisik, itu mungkin mendidik
disiplin. Namun, secara pedagogis, apakah itu menanamkan rasa cinta pada ilmu,
atau justru memupuk dendam pada institusi sekolah?
Merelevansikan
Kearifan Lokal
Kearifan lokal NTT
sebenarnya kaya akan dialog. Tradisi seperti Lulo atau
musyawarah adat mengajarkan bahwa masalah diselesaikan dengan duduk bersama.
Mengapa prinsip ini tidak lebih dominan dalam sistem sanksi kita?
Sanksi di Madrasah
seharusnya bertransformasi menjadi Disiplin Positif. Ketimbang
memberikan hukuman yang mempermalukan (seperti berdiri di depan kelas), mengapa
kita tidak menggunakan pendekatan "sanksi sosial" yang lebih
bermartabat? Misalnya, mewajibkan siswa yang melanggar untuk menghafal ayat
pendek tambahan atau membantu rekan sejawatnya dalam belajar. Ini adalah sanksi
yang memanusiakan manusia—sejalan dengan nilai Flobamora yang
inklusif dan religius.
Menggugat Peran
Komite dan Orang Tua
Ketidaktepatan sanksi
sering kali berakar dari komunikasi yang buntu antara Madrasah dan orang tua.
Di NTT, banyak orang tua menyerahkan anak sepenuhnya ke sekolah dengan
kalimat, "Terserah Pak Guru mau apakan, asal dia pintar." Pernyataan
ini berbahaya. Ini memberi cek kosong bagi guru untuk bertindak represif.
Pendidikan Madrasah
yang kritis harus berani mendidik orang tua bahwa disiplin tidak harus
berdarah. Madrasah harus menjadi pelopor pendidikan yang ramah anak tanpa
kehilangan wibawa. Sanksi yang tepat adalah sanksi yang membuat siswa
berkata, "Saya salah dan saya ingin memperbaikinya," bukan "Saya
benci sekolah ini."
Penutup: Mencari
Jalan Tengah
Sudah saatnya kita
meninjau ulang aturan internal di Madrasah-Madrasah kita. NTT tidak butuh generasi
yang patuh karena takut, tapi generasi yang disiplin karena sadar. Mari kita
jaga kearifan lokal kita—ketegasan, keberanian, dan kejujuran—tanpa harus
mengadopsi cara-cara yang menyakiti fisik dan psikis.
Sanksi harus menjadi
obat, bukan racun. Karena pada akhirnya, tujuan Madrasah adalah mencetak
"Insan Kamil", dan tidak ada kesempurnaan manusia yang lahir dari
rasa takut yang membatu.
Komentar
Posting Komentar