Postingan

EKOTEOLOGI: NAFAS BARU MODERASI BERAGAMA DALAM MENJAGA BUMI, Oleh: Muhammad H. Sjamsuddin

D i tengah krisis iklim global yang semakin mengkhawatirkan, agama tidak boleh hanya berdiri di menara gading. Kementerian Agama RI kini mengambil langkah progresif dengan menggagas konsep Ekoteologi. Sebuah konsep yang mempertemukan kesucian ajaran agama dengan etika pelestarian lingkungan. Langkah ini bukan sekadar tren kebijakan, melainkan panggilan teologis untuk memposisikan manusia kembali sebagai khalifah fil ardh—pengelola bumi yang bijaksana, bukan perusak. 1.   Landasan Filosofis: Iman yang Membumi Secara filosofis, ekoteologi berakar pada keyakinan bahwa seluruh alam semesta adalah "ayat" atau tanda-tanda kebesaran Tuhan. Alam bukan sekadar objek eksploitasi, melainkan entitas sakral yang memiliki hak untuk lestari. Dalam perspektif Islam, konsep ini bertumpu pada pilar  Tauhid  (Keesaan Tuhan sebagai pemilik alam),  Khalifah  (Mandat manusia sebagai perawat bumi), dan  Mizan  (Keseimbangan alam yang harus dijaga). 2 . ...

Menertibkan Anak, Bukan Menyakiti Jiwa: Menguji Sanksi "Keras" di Madrasah NTT dalam Timbangan Kearifan Lokal

Gambar
Pendidikan di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di lingkungan Madrasah, selalu berdiri di atas dua pilar raksasa: disiplin yang teguh dan penghormatan terhadap orang tua/guru. Di tanah yang keras ini, ada pameo tak tertulis bahwa "rotan guru adalah kasih sayang." Namun, ketika zaman bergeser dan perlindungan anak menjadi harga mati, masihkah metode sanksi lama kita relevan? Atau jangan-jangan, kita sedang mengatasnamakan "kearifan lokal" untuk melegitimasi kekerasan yang seharusnya sudah usang? Antara Kedisiplinan dan Trauma Madrasah di NTT memiliki karakteristik unik. Kita tidak hanya mentransfer ilmu umum, tapi juga membentuk akhlakul karimah. Masalahnya, sering kali batas antara ketegasan dan kekerasan menjadi bias. Sanksi fisik—meski dianggap lumrah oleh sebagian orang tua di kampung-kampung—kini menjadi bom waktu. Apakah tepat menghukum siswa yang terlambat dengan membersihkan halaman di bawah terik matahari Flores atau Alor yang menyengat? Secara fisik, itu...

MADRASAH DAN REALITA: ANTARA KEKUATAN KARAKTER DAN TANTANGAN KETERAMPILAN

Gambar
P endidikan dunia saat ini berpijak pada kerangka kerja yang dirumuskan oleh UNESCO. Dalam laporan Learning: The Treasure Within. (1996) Terdapat empat pilar utama atau model pembelajaran yang menjadi standar global saat ini: 1.   Learning to Know (Belajar untuk Mengetahui): Penguasaan     alat pengetahuan dan cara belajar. 2.   Learning to Do (Belajar untuk Melakukan): Penerapan ilmu dalam praktik dan keterampilan kerja. 3.  Learning to Live Together (Belajar untuk Hidup Bersama): Membangun toleransi dan harmoni sosial. 4.   Learning to Be (Belajar untuk Menjadi Diri Sendiri): Pengembangan kepribadian, kemandirian, dan integritas secara utuh. Bagi madrasah, keempat pilar ini bukanlah konsep asing, melainkan napas yang selaras dengan misi mencetak insan kamil. Namun, jika kita menilik realita di lapangan, jalan menuju idealisme tersebut masih dipenuhi tantangan yang kontras antara kekuatan karakter dan tuntutan keterampilan. ​​ Di tengah ...

Isi Sela Ujian TKA, MIN 3 Alor Gelar Ujian Praktik bagi Siswa Kelas VI

Gambar
Isi Sela Ujian TKA, MIN 3 Alor Gelar Ujian Praktik bagi Siswa Kelas VI

Tumbuhkan Empati, MIN 3 Alor Gelar Aksi Berbagi 250 Paket Takjil

Gambar
  (MIN 3 ALOR) Humas  – Suasana di ruas Jalan Raya Muhammad Saleh seketika berubah hangat pada Kamis (05/03/2026) sore. Keluarga besar Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Alor turun ke jalan untuk menggelar aksi bakti sosial berupa pembagian 250 paket takjil gratis kepada masyarakat dan pengguna jalan yang melintas di depan gerbang madrasah. Dengan senyum ramah, para guru dan siswa tampak antusias menyapa setiap pengendara, menyodorkan paket berisi makanan ringan dan minuman segar guna membantu mereka menyegerakan berbuka puasa di tengah perjalanan. Pembagian Takjil dan Buka Puasa bersama Aksi penuh keberkahan ini bukan sekadar kegiatan bagi-bagi makanan, melainkan wujud nyata dari penguatan pendidikan karakter bagi para siswa. Koordinator Pendidikan MIN 3 Alor, Hamidah Lewo, S.Pd.I, menegaskan bahwa madrasah memiliki tanggung jawab besar untuk menanamkan nilai kepedulian sejak dini. Menurutnya, momen Ramadan adalah waktu yang paling tepat untuk mengajarkan kepada anak-anak ba...
Gambar
Perkuat Moderasi Beragama, MIN 3 Alor Buka Kegiatan Pesantren Ramadan 1447 H MIN 3 ALOR  (Humas) –  Memasuki pertengahan bulan suci Ramadhan 1447 H yang penuh berkah , Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Alor resmi membuka kegiatan Pesantren Ramadan bagi para siswa pada Rabu (04/03/2026). Kegiatan yang sarat dengan nilai spiritual dan kebangsaan ini dipusatkan di Musholla Nurul Huda MIN 3 Alor dengan melibatkan seluruh siswa dan dewan guru dalam suasana yang penuh khidmat. Pembukaan Prsatren Ramadhan 1447 H dan Materi Moderasi beragama. Oleh Kamad. MIN 3 Alor P embukaan kegiatan diawali dengan penyampaian materi utama mengenai Moderasi Beragama yang dibawakan langsung oleh Kepala Madrasah, Muhammad Sjamsuddin, S.Pd.I. Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa bagi siswa tingkat MI, moderasi beragama adalah tentang menumbuhkan sikap santun dan menghargai perbedaan sejak dini. Beliau menjelaskan bahwa Pesantren Ramadan tahun ini tidak hanya fokus pada peningkatan ibadah secara ...

MIN 3 Alor Tanamkan Nilai Keagamaan Melalui Pembiasaan Ibadah Rutin

Gambar
  (Humas)***Madrasah Ibtidaiyah Negeri 3 Alor (MIN 3 ALOR) terus menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada peserta didik melalui rutinitas ibadah yang dilaksanakan secara terjadwal di mushola madrasah. Kegiatan ini melibatkan siswa kelas 4, 5, dan 6 yang mengikuti pelaksanaan ibadah shalat secara bergilir sesuai jadwal yang telah ditetapkan oleh pihak madrasah. Pelaksanaan shalat Dhuha di pagi hari serta salat Dhuhur sebelum pulang bagi siswa kelas 4, 5, dan 6 dilaksanakan secara bergantian. Pengaturan ini dilakukan untuk memberikan kesempatan yang merata kepada seluruh siswa agar dapat beribadah dengan tertib, nyaman, dan khusyuk di mushola. Sementara itu, khusus bagi siswa kelas 6, pelaksanaan shalat Dhuhur  dilakukan setiap hari di mushola sebagai bentuk pembiasaan ibadah yang lebih intensif dan berkelanjutan.