EKOTEOLOGI: NAFAS BARU MODERASI BERAGAMA DALAM MENJAGA BUMI, Oleh: Muhammad H. Sjamsuddin

Di tengah krisis iklim global yang semakin mengkhawatirkan, agama tidak boleh hanya berdiri di menara gading. Kementerian Agama RI kini mengambil langkah progresif dengan menggagas konsep Ekoteologi. Sebuah konsep yang mempertemukan kesucian ajaran agama dengan etika pelestarian lingkungan. Langkah ini bukan sekadar tren kebijakan, melainkan panggilan teologis untuk memposisikan manusia kembali sebagai khalifah fil ardh—pengelola bumi yang bijaksana, bukan perusak.

1. Landasan Filosofis: Iman yang Membumi

Secara filosofis, ekoteologi berakar pada keyakinan bahwa seluruh alam semesta adalah "ayat" atau tanda-tanda kebesaran Tuhan. Alam bukan sekadar objek eksploitasi, melainkan entitas sakral yang memiliki hak untuk lestari. Dalam perspektif Islam, konsep ini bertumpu pada pilar Tauhid (Keesaan Tuhan sebagai pemilik alam), Khalifah (Mandat manusia sebagai perawat bumi), dan Mizan (Keseimbangan alam yang harus dijaga).

2. Dampak dan Tantangan Nyata di Akar Rumput

Penerapan ekoteologi di tingkat pusat mungkin terdengar ideal, namun di tingkat madrasah "kampung" seperti MIN 3 Alor, tantangannya jauh lebih kompleks dan bersifat kultural.

· Budaya Lepas Ternak sebagai Hambatan: Salah satu kendala utama percepatan program penghijauan atau "Madrasah Hijau" adalah tradisi lokal melepas ternak secara bebas. Di banyak kampung, hewan ternak seperti kambing atau sapi dilepaskan tanpa kandang. Akibatnya, tanaman yang baru saja ditanam oleh warga madrasah dengan semangat ekoteologi, seringkali habis dimakan ternak dalam semalam.

·  Investasi Pengawasan dan Pemagaran: Realitas di lapangan menunjukkan bahwa menanam saja tidak cukup. Untuk mensukseskan ekoteologi, madrasah harus mengeluarkan energi dan biaya ekstra untuk pemagaran yang ketat dan pengawasan intensif. Tanpa pagar yang kokoh, upaya penghijauan hanya akan menjadi kegiatan seremonial yang sia-sia.

3. Peluang: Kolaborasi dengan Masyarakat

Meskipun budaya lepas ternak menjadi tantangan, hal ini juga membuka peluang dialog antara madrasah dan masyarakat luas. Ekoteologi dapat menjadi pintu masuk untuk mengedukasi warga bahwa menjaga tanaman madrasah juga merupakan bagian dari menjaga amanah Tuhan. Keberhasilan program ini sangat bergantung pada sinkronisasi antara kebijakan madrasah dengan kesadaran pemilik ternak di sekitar lingkungan sekolah.

4. Dampak bagi Bangsa dan Negara

Jika hambatan teknis seperti pemagaran dan pengawasan ini dapat teratasi, dampaknya akan luar biasa:

· Warga Madrasah: Siswa belajar tentang ketekunan dan perlindungan lingkungan (bukan sekadar menanam, tapi menjaga).

·  Masyarakat Luas: Terciptanya tatanan sosial baru di mana kepentingan umum (lingkungan hijau) dan kepentingan pribadi (ternak) dapat berjalan beriringan tanpa saling merugikan.

Opini Penutup

Ekoteologi di madrasah kampung bukan sekadar bicara teori tinggi tentang perubahan iklim, melainkan tentang bagaimana kita memagari masa depan. Keberhasilannya di tempat seperti MIN 3 Alor memerlukan keberanian untuk menegakkan disiplin, baik dalam hal pengawasan tanaman maupun koordinasi dengan warga pemilik ternak.

Menanam adalah ibadah, namun memastikan tanaman itu tumbuh besar di tengah kepungan ternak yang lepas adalah perjuangan iman yang sesungguhnya. Mari kita wujudkan madrasah yang hijau, asri, dan terlindungi sebagai warisan bagi generasi mendatang.

Komentar